[tutup]

Dilema Pemerintah, Pilih Panas Bumi atau Hutan?



Jakarta - Indonesia merupakan penguasa 40% energi panas bumi dunia, namun pengembangan listrik panas bumi yang biayanya murah masih belum maksimal akibat izin kehutanan. Menteri ESDM dan Menteri Kehutanan belum kompak.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, panas bumi atau geothermal merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sedang dikebut oleh pemerintah, namun pengembangannya saat ini terhambat karena tidak kompaknya kementerian kehutanan.

"Selama ini yang menghambat pengembangan Geothermal adalah di ketuhanan," kata Jero di Kantor Kementerian Perekonomian, Jumat (16/12/11).

Dikatakan Jero Wacik, hal itu didasari karena biasanya gunung berapi yang di bawahnya ada magma, dan magma itulah yang membuat panas.

"Panas tersebut menghasilkan uap, dan bisa dimanfaatkan energinya untuk listrik. Nah, biasanya di atas lereng gunung merapi itu adalah hutan, di sinilah letak masalahnya karena di situ biasanya hutan lindung," terangnya.

Akibatnya, jika tidak ada kekompakan antara Menteri kehutanan dan Menteri ESDM maka panas bumi sulit dikembangkan.

"Kita tidak bisa kompak, maka bisa bottleneck atau terkunci. Makanya kita harapkan ada kesepakatan dengan Kehutanan, agar untuk pengembangan energi ini, kita bisa diberikan izin sedikit untuk eksplorasi di hutan lindung tersebut," tandasnya.

Jero mengatakan, pihaknya dengan Kementerian Kehutanan akan menandatangani kesepakatan izin eksplorasi panas bumi di 28 titik.

"Senin depan kami akan MOU untuk izin eksplorasi Geothermal di 28 titik di wilayah kementerian Kehutanan," kata Jero.

Adapun 28 titik tersebut tersebar di banyak pulau terutama yang memiliki gunung merapi dan di sekitarnya merupakan hutang lindung.

Pasalnya menurut Jero Wacik, pengembangan panas bumi mengandalkan panas magma yang menghasilkan uap panas.

"Tapi masalahnya, di lereng-lereng gunung merapi adalah hutan dan biasanya hutan lindung. Di sinilah letak masalah pengembangan geothermal, izin dari kehutanan yang kadang tidak sejalan," ungkapnya.

Nantinya kata Jero Wacik, dengan adanya MOu tersebut, diharapkan terjalin kerjasama, antara kedua kementerian ini. "Mekanismenya kita diberikan izin sebagian lokasi untuk eksplorasi geothermal di hutan lindung di 28 titik yang telah disepakati," ujarnya.

sumber : detik.com

7 Cara "Mengambil Hati" Calon Mertua

Hubungan kamu dan pasangan sudah mantap. Kini waktunya mengambil hati calon mertua. Ini caranya!


Setelah berhasil meluluhkan hati pasangan, tak ada salahnya juga untuk membuat seluruh keluarganya menyukaimu. Hal ini akan membuat jalannya hubungan semakin lancar. Berikut beberapa tips yang dikutip dari sheknows.

1. Sopan santun
Ini merupakan hal yang paling penting. Kenali benar budaya keluarga pasangan. Pertama kali bertemu, jangan lupa untuk berpakaian sopan. Tak perlu terlihat kuno, asal rapi dan elegan. Tak ada salahnya untuk mencium tangan orang tuanya jika memang itu budaya yang berlaku dalam keluarga pasangan. Ucapkan 'Tolong', dan 'Terima kasih' di saat yang tepat. Bersikaplah ramah. Jangan terlalu tegang karena kamu justru akan tampak aneh

2. Memuji
Pujian tulus akan menghangatkan suasana. Makanan yang disajikan, penampilan ibunya, atau talenta musik sang adik bisa jadi pujian. Namun ingat, lakukan dengan tulus, dan jangan berlebihan.

3. Bertanya
Bertanya merupakan tanda perhatian. Bertanya juga merupakan tanda bahwa kamu peduli dan ingin mengenal lebih jauh mengenai keluarga pasangan. Tak ada salahnya untuk mengajukan pertanyaan ringan seputar kegiatan pasanganmu saat di rumah. Namun jangan terlalu mendalam, salah bertanya justru akan membuatmu terlihat tidak sopan.

4. Tersenyumlah
Jangan lupa untuk tersenyum. Hal ini akan semakin memancarkan keramahanmu. Tersenyumlah dengan tulus. Tunjukkan bahwa kamu menikmati kebersamaan bersama keluarga pasangan.

5. Membantu
Tunjukkan bahwa kamu adalah seseorang yang suka membantu. Ikut membereskan meja makan, menyajikan camilan dan minum, akan membuat calon ibu mertua kamu terkesan.

6. Follow-up
Pertemuan pertama sudah dilakukan. Namun bukan berarti kamu menjadi tak peduli lagi dengan keluarga pasangan. Sesekali menelepon calon ibu mertua, atau mengajak adik perempuan pasangan untuk ke salon atau berbelanja bersama akan semakin mendekatkan dirimu pada mereka. Kamu juga memiliki kesempatan lebih untuk dikenal dan mengenal.

7. Ulangi lagi
Jangan bosan untuk mengulang-ulang langkah-langkah di atas. Keluarga juga pasangan akan terkesan serta semakin menyanyangi kamu.

sumber: wolipop.com

10 Hal Terlarang Diucapkan pada Buah Hati

Berbicara di depan buah hati jauh lebih sulit ketimbang di depan orang dewasa. Pasalnya, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak diungkap di hadapan mereka. Inilah beberapa daftar hal terlarang untuk diucapkan.


Menerapkan sikap selektif dalam melontarkan kalimat terhadap buah hati sebaiknya memang diadopsi para orang tua. Dengan kalimat yang tidak menyudutkan dan bersifat positif terhadap buah hati, perkembangan mental mereka pun jadi lebih maksimal.

Banyak orang tua sering mengacuhkan aturan ketat dalam melontarkan pembicaraan di depan buah hatinya. Padahal, banyak kata-kata kasar dan tidak sepantasnya terlontar dalam pembicaraan tersebut yang kurang baik bagi perkembangan buah hati. Nah, sebelum terlambat, hindari yuk beberapa kalimat berikut saat menggulirkan perbincangan dengan buah hati Anda. Womansday membeberkannya.

1. “Aku tahu kamu bisa mencoba lebih giat lagi”
Frustasi seorang anak karena prestasi yang kurang baik di beberapa pelajaran sebaiknya disikapi dengan bijak oleh orang tua. Meskipun kenyataannya anak Anda kurang rajin dan membuat nilai melorot namun tak lantas membuat Anda melayangkan kalimat “Kamu sangat malas”. Ingat, setiap komentar yang terlontar dari mulut Anda akan membuat mereka berkecil hati. Jadi, untuk memotivasinya tidak harus dengan melayangkan kalimat yang menyudutkan ataupun menjatuhkan. Katakan saja kalimat seperti “Jika kamu sudah menyelesaikan tugas dan membereskan kamar, maka barulah kamu boleh pergi bermain.”

2. “Apakah kamu masih membutuhkan cupcake berikutnya?”
Sebenarnya niat Anda baik yakni untuk menjaga kesehatan gizi anak Anda supaya tetap sehat. Tetapi dengan melayangkan pembicaraan yang negatif maka anak pun justru tersinggung dibuatnya. Jadi, jika Anda khawatir tentang apa yang anak Anda makan di rumah gunakanlah tindakan dan bukan menggulirkan kata-kata. Dengan cara tersebut, anak Anda pun jauh lebih menangkap pesan tersebut. Karenanya, jangan ada lagi bentakan ketika tangannya terus menerus menggasak toples berisi keripik kentang. Sebagai antisipasi, menyimpan makanan-makanan tersebut agar tak dijamahnya secara berlebihan menjadi sebuah solusi terbaik.

3. “Kamu selalu…. “ atau “ Kamu tidak pernah…”
Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan buruk atau kecerobohan anak-anak setiap harinya memagn selalu terjadi. Misalnya saja meludah sembarangan, atau lupa menempatkan kaus kaki di keranjang baju kotor dan sebagainya. Meski demikian keadaannya, Anda tetap harus berhati-hati dalam melayangkan kalimat kebencian atas kebiasaannya tersebut. Pasalnya anak-anak akan menjadi apa yang ktia katakana kepada mereka. Sebaliknya, tanyakan saja kepada anak-anak bagaimana Anda bisa membantu mereka atau mengubah kebiasaan buruknya.


4. “Mengapa kamu tidak bisa seperti kakak atau adikmu?”
Membandingkan anak yang satu dengan saudara lainnya tentu sangatlah tidak bijak dan justru bakal menyulut persaingan panas di keluarga. Jadi, cobalah untuk selalu mendorong setiap anak Anda secara adil dalam hal apapun yang dijalaninya dan hindari selalu kalimat yang mengesankan perbandingan satu sama lain.

5. “Aku bilang tunggu sampai menit terakhir adalah sebuah kesalahan!”
Anak Anda mungkin sedang asyik bermain game dan enggan untuk beranjak sepanjang hari sementara pekerjaan rumah mereka menanti. Menghadapi hal tersebut, kalimat larangan berulang kali yang dilayangkan tak memiliki efek apapun terhadap anak Anda. Saking kesalnya, Anda pun melintarkan kalimat, “ Aku kan sudah bilang…” dengan nada mendesak dan bukannya bertanya padanya apakah setelah bermain kalian akan meneruskan dengan waktu belajar. Atau bisa juga menunjukkan hal positif yang membuat mereka tergugah melakukannya.

6. “Kamu yang terbaik di sepak bola!”
Hal ini mungkin tampak positif saat didengar. Padahal justru pernyataan Anda tersebut malah merendahkan anak Anda. Ingat, pernyataan positif tidak berarti membatasi gerak anak Anda. Jadi, katakanlah padanya seberapa pintar dia ketika bermain di lapangan hijau. Dari waktu ke waktu justru dia akan makin termotivasi dan tertantang untuk mencoba hal baru. Pasalnya, ketika Anda mengatakan pujian secara berlebihan sementara dia merasa tidak mencapai prestasi itu, hal tersebut justru menjadi bumerang bagi Anda karena anak Anda pun bakal merasa frustasi dibuatnya.

7. “Jangan khawatirkan hari pertama sekolah karena akan baik-baik saja”
Menenangkan buah hati ketika memasuki hari pertama sekolah memang tak ada salahnya. Meski demikian, Anda pun perlu memerhatikan kalimat yang dapat menenangkan dirinya. Ketimbang mengatakan “jangan menangis” atau “jangan marah” sebaliknya katakanlah bahwa “kamu tampak khawatir nak hari ini, Adakah yang bisa mama bantu untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut?”

8. “Karena aku bilang begitu!”
Menunjukkan power di depan anak-anak memang penting. Namun ketika hal tersebut diaplikasikan terlalu berlebihan dan terkesan otoriter maka anak-anak pun tak akan menyukainya. Jadi, ketimbang mengatakan “Karena aku bilang begitu dan membuat mereka merasa kurang memegang kendali atas apa yang mereka mampu lakukan sebaliknya katakan saja “Aku tahu kamu lebih suka naik sepeda, tapi Bibi yang sangat mencintaimu tentu kelelahan jika harus mengikutimu. Jadi cobalah untuk mengerti perasaan mereka.”

9. “Aku berharap kamu tidak bergaul dengan Jack agar kamu tidak seperti dirinya”
Banyak orang tua kerap menempuh cara ini dan melarang pergaulan anaknya karena kekhawatiran akan terkontaminasi hal yang buruk. Ketimbang melayangkan larangan, tak ada salahnya melakukan evaluasi kesalahan yang dilakukannya dan ceritakan bahaya apa yang akan diterimanya ketika dia melakukan hal tersebut. Layangkan semua pertanyaan tersebut dengan pertanyaan terbuka sehingga komunikasi Anda berdua tetap terjaga.

10. “Jika kamu tidak bisa melakukannya, biar aku saja yang melakukannya”
Misalnya saja Anda meminta tolong anak Anda untuk mengaduk sop, melipat handuk atau mencuci mobil suatu hari. Permasalahannya, hasil yang mereka lakukan tidak sesuai dengan keinginan Anda, lantas Anda pun langsung mengambil alih tugas tersebut. Sebaiknya hal tersebut dihindari dan Anda bisa lebih menaha diri serta membiarkan anak Anda melakukan usaha semampunya. Jika Anda merasa tidak cocok dengan hasil tugasnya maka ajari dia dengan cara yang Anda inginkan. Lambat laun dia pun akan mengerti. Hal ini jauh lebih baik ketimbang menghujani dirinya dengan berbagai kalimat negatif yang membuatnya down.

sumber: okezone.com

Facebook Twitter
 
Groovy Pointer 3